Di Balik Kacamata Hitam Calon Pemimpin Kaltim
SAMARINDA— Pada 23 September 2024, saya, Edwin Derry Mahatma, S.H., Sekretaris Jenderal Putra-Putri Etam Mahakam Kalimantan Timur, berkesempatan mengikuti dan mendampingi calon Gubernur Kalimantan Timur, Bapak Rudy Mas'ud, dalam pengambilan nomor urut pencalonan di Kantor KPU Kaltim. Acara tersebut berlangsung meriah, namun ada satu hal yang menarik perhatian saya—dan terus mengusik pikiran—yakni kacamata hitam yang dikenakan oleh calon gubernur lain, Isran Noor.
Sejak awal hingga akhir acara, Isran Noor tetap mengenakan kacamata hitamnya, meskipun acara tersebut bersifat formal dan dihadiri banyak orang. Saya bertanya-tanya, apakah kacamata hitam itu sekadar bagian dari gaya pribadi, atau ada alasan medis di balik pemakaian yang tampak konstan itu? Bisa jadi, beliau ingin menyembunyikan usia dengan cara yang lebih bergaya. Namun, tidak menutup kemungkinan ada kondisi medis tertentu yang membuatnya sensitif terhadap cahaya.
Penasaran, saya langsung mencari informasi lebih lanjut dengan mengetikkan nama Isran Noor di mesin pencari Google. Hasilnya, muncul berbagai gambar beliau—beberapa mengenakan kacamata hitam, dan beberapa tidak. Artinya, secara medis, Isran Noor tampaknya tidak mengalami gangguan yang memaksanya harus selalu mengenakan kacamata. Jadi, apakah ini murni soal gaya?
Pertanyaan yang muncul berikutnya, apakah gaya seperti ini pantas dalam acara resmi yang menuntut etika dan kesopanan? Saya kira, tidak banyak tokoh publik atau bahkan selebriti internasional yang memilih mengenakan kacamata hitam dalam acara formal. Kacamata hitam bisa saja digunakan, tapi pada tempatnya—seperti saat berkendara di bawah terik matahari atau ketika sedang mengalami masalah mata. Menggunakannya di acara formal bisa menciptakan kesan yang salah, seolah-olah ingin menjaga jarak dengan orang lain atau menyembunyikan sesuatu.
Ketika kita berinteraksi dalam acara formal, pandangan mata adalah salah satu alat komunikasi yang paling penting. Melalui tatapan, kita bisa merasakan kejujuran, ketulusan, dan kedalaman obrolan lawan bicara. Menutupi mata dengan kacamata hitam dalam situasi seperti ini, bagi saya, adalah tanda ketidakjujuran.
Berbeda halnya dengan Rudy Mas'ud. Walaupun beliau lebih muda dari Isran Noor, ketika saya mencari gambar-gambarnya di Google, hampir semua menunjukkan Rudy tanpa kacamata hitam. Tatapan matanya terlihat terbuka dan penuh ekspresi, seolah berbicara jujur kepada siapa pun yang melihatnya.
Kalimantan Timur, sebagai provinsi yang terus berkembang, membutuhkan pemimpin yang jujur, terbuka, dan berintegritas. Inilah saatnya bagi generasi muda yang jujur untuk mengambil peran penting dalam memajukan Kalimantan Timur. Dengan kejujuran dan ketulusan, saya yakin, Kaltim bisa bersinar lebih terang.
Edwin Derry Mahatma, S.H
Sekretaris Jenderal Putra-Putri Etam Mahakam Kalimantan Timur
Tidak ada komentar